SANCTUARY: Calista Panca Altair
Hanya kisah klasik dimana seorang gadis yang baru beranjak dewasa, mencoba melangkah mencari jalannya sendiri.
Bagi Calista rumah memang tempat pulang, tempat istirahat dari lelahnya kehidupan.
Namun setelah kepergian Abah, suasana 'Rumah' itu kian hilang, keempat kakaknya mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"A, Aku kangen rumah."
"Ini kan rumah, Ta."
"Bukan yang ini, tapi rumah yang selalu ramai di sore hari. Rumah yang jadi tempat pulang, yang penuh candaan aa sama abang dan teriakan penuh tawa teh Jeje sama Lala."
Sudut bibir Dika tertarik. "Nikmati yang ada Ta, rumah ini masih jadi tempat pulang. Kita coba buat kembaliin suasananya ya. Sampai nanti, kamu akan tahu apa itu tempat pulang yang sebenarnya."
Benar, semuanya mulai membaik apalagi setelah datangnya Arsen yang kembali mewarnai hidup Calista dan keluarga.
Tapi Calista belum tahu apa yang di maksud Dika tentang "Tempat pulang yang sebenarnya."
[plagiat DNI]