Aksara Ambang Asa

Aksara Ambang Asa

  • WpView
    Reads 14,251
  • WpVote
    Votes 909
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 1, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Highschool
Second Chance
First Love
Bagi Fiorella Elara Faye, mencintai Aksara Arriza Akbar bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kutukan manis yang ia bawa selama sepuluh tahun. Semuanya dimulai di sebuah aula sekolah saat pesantren kilat kelas sepuluh-sebuah tatapan di seberang barisan yang tak pernah benar-benar putus hingga mereka menginjak usia 29 tahun. Mereka pernah sedekat napas, namun tanpa status yang jelas. Fiorella adalah saksi bisu saat Aksara melabuhkan hatinya pada perempuan lain, yang ironisnya adalah teman sekelasnya sendiri. Ia belajar memendam, belajar menjadi "muara" yang tenang meski arusnya menghancurkan di dalam. Kini, belasan tahun telah berlalu. Fiorella masih sendiri, terjebak dalam orbit yang sama, menolak setiap hati yang datang karena baginya, ruang itu sudah penuh. Saat takdir membawa mereka kembali bersinggungan setelah bertahun-tahun, Fiorella dipaksa bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia akan menunggu di ambang harapan? Dan apakah Aksara akhirnya akan menyadari, bahwa selama ini, ia hanya perlu menoleh sedikit untuk menemukan tempatnya pulang? "Sebab jika hatimu akhirnya berubah, aku masih di sini. Masih di titik yang sama."
All Rights Reserved
#7
friendzone
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di balik Kubikel Meja Imigrasi [DBKMI]- END
  • Unending Breakup
  • The (Ad)Mission
  • N A L A (Cerita Nala)
  • All We Need Is Love
  • After Nine Years Wedding
  • Tanpa Luka
  • Rabu
  • when the story is over
  • Ocean Waves

Bagaimana caranya menyembunyikan sesuatu yang bahkan dirimu sendiri belum sepenuhnya memahaminya? Arum Stephanie belum menemukan jawabannya ketika ia berdiri di balik dinding bata ekspos rumah makan Padang itu, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, mendengarkan suara-suara dari area merokok yang seharusnya tidak ia dengar. "Luna itu montok, berisi, padat. Cocok buat Arkana yang badannya kurus begini." Suara Pak Ambor terdengar penuh semangat. "Kalau Arum... ya, kamu tahu sendiri. Badannya kecil, mungkin makannya juga sedikit." "Bener, Pak. Lihat aja mantan-mantannya Mas Arka. Veronica kuliah di London. Della pramugari, jago empat bahasa. Kelas semua. Nah, Mbak Arum... susah saingan." Arum tidak menunggu kalimat berikutnya. Ia berbalik dan berjalan pergi, kantong plastik berisi makanan untuk keluarga Rieke masih tergenggam di tangannya. Kata-kata itu-nggak standout, biasa aja, susah saingan-menancap seperti duri yang terlalu kecil untuk dicabut. Ia tidak tahu bahwa beberapa meter darinya, di area merokok yang sama, seseorang memilih untuk tidak bersuara. Seminggu kemudian, Arum melakukan hal paling bodoh sepanjang enam tahun kariernya.. ia ketahuan memotret Arkana Verdon diam-diam. Bukan untuk dirinya sendiri-untuk Della Naura, mantan Arkana yang setiap malam mengiriminya pesan memohon foto terbaru. zzzh. blitch itu seharusnya tidak muncul. Tapi Arkana menoleh. "Hapus." Arum menghapusnya dengan jemari yang bergetar, tapi itu belum cukup. "Ponsel kamu menginap di saya. Satu kali dua puluh empat jam." "Mas nggak bisa-" "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan Informasi Elektronik dapat dipidana. Pasal 27 ayat 1. Pasal 30 ayat 1. Pasal 32 ayat 1." Ia menjeda, matanya menatap lurus ke mata Arum. "Kamu ingin saya lanjutkan, atau kamu mau terima satu kali dua puluh empat jam?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines