Aksara Ambang Asa

Aksara Ambang Asa

  • WpView
    Reads 5,626
  • WpVote
    Votes 460
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 4 hours ago
Bagi Fiorella Elara Faye, mencintai Aksara Arriza Akbar bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kutukan manis yang ia bawa selama sepuluh tahun. Semuanya dimulai di sebuah aula sekolah saat pesantren kilat kelas sepuluh-sebuah tatapan di seberang barisan yang tak pernah benar-benar putus hingga mereka menginjak usia 29 tahun. Mereka pernah sedekat napas, namun tanpa status yang jelas. Fiorella adalah saksi bisu saat Aksara melabuhkan hatinya pada perempuan lain, yang ironisnya adalah teman sekelasnya sendiri. Ia belajar memendam, belajar menjadi "muara" yang tenang meski arusnya menghancurkan di dalam. Kini, belasan tahun telah berlalu. Fiorella masih sendiri, terjebak dalam orbit yang sama, menolak setiap hati yang datang karena baginya, ruang itu sudah penuh. Saat takdir membawa mereka kembali bersinggungan setelah bertahun-tahun, Fiorella dipaksa bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia akan menunggu di ambang harapan? Dan apakah Aksara akhirnya akan menyadari, bahwa selama ini, ia hanya perlu menoleh sedikit untuk menemukan tempatnya pulang? "Sebab jika hatimu akhirnya berubah, aku masih di sini. Masih di titik yang sama."
All Rights Reserved
#8
friendzone
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines