"Bagi Kethlana, manusia hanyalah pola yang bisa dibaca, diuji, dan dihancurkan sesuka hati."
Di sekolah, Kethlana adalah pusat perhatian. Dia mudah akrab dengan siapa saja, namanya ada di setiap lingkar pertemanan, dan senyumnya selalu berhasil membuat orang lain merasa nyaman untuk terbuka.
Namun di balik topeng ramah itu, Kethlana punya motif lain. Dia mendekat bukan untuk berteman, melainkan memindai titik rapuh dan trauma tersembunyi yang mati-matian ditutupi orang-orang di sekitarnya lewat InXPad miliknya.
Empat target pertamanya selalu berakhir dengan Kethlana yang celaka. Setiap kali dia mencoba memainkan celah psikologis mereka, selalu ada "kecelakaan" yang berbalik menyerang fisiknya. Namun, rasa sakit itu justru membuat Kethlana semakin terobsesi untuk terus meneliti manusia. Sampai akhirnya, pandangannya jatuh pada target kelima.
Seorang laki-laki pendiam di sudut kelas. Dia teramat tenang, tidak tersentuh, dan seolah tahu apa yang sedang Kethlana lakukan sejak awal.
Berniat menjadikannya subjek baru, Kethlana justru terjebak dalam permainannya sendiri. Siasat yang dia susun perlahan berbalik mengusik pikirannya, merusak kewaspadaan, dan merebut kendali yang selama ini dia pegang erat.
Kethlana terlambat menyadari bahwa kali ini dia salah memilih lawan. Di hadapan laki-laki itu, topeng Kethlana dikupas perlahan. Dia bukan lagi seorang pengamat yang berkuasa, melainkan buruan yang sedang digiring menuju kehancuran.
FOLLOW SEBELUM MEMBACA YA, BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN LANJUTANNYA. TERIMAKASIH
All Rights Reserved