Hidupku mulai berubah sejak hari itu-hari ketika ayah pergi dan tak pernah kembali.
Sejak saat itu, rumah yang dulu terasa hangat berubah menjadi sunyi yang menekan. Tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi suara langkah kaki yang dulu selalu membuatku merasa aman. Yang tersisa hanyalah tangisan ibu yang ia sembunyikan di balik pintu, dan perut kosong yang tak bisa diajak berkompromi.
Aku masih kecil saat itu. Terlalu kecil untuk memahami kehilangan, tapi cukup besar untuk merasakan lapar.
Setiap pagi, aku berjalan menyusuri jalanan, memungut botol plastik bekas satu per satu. Tanganku kotor, kakiku lelah, tapi pikiranku hanya satu: bagaimana caranya agar hari ini kami bisa makan.
Hasilnya tak pernah banyak. Kadang hanya cukup untuk membeli beras setengah kilo. Itu pun kami masak jadi bubur agar bisa bertahan lebih lama-dibagi untuk ibu, aku, adik, dan kakak-kakakku
Aku punya mimpi dulu. Aku ingin sekolah, memakai seragam rapi, membawa tas di punggung, dan belajar seperti anak-anak lain. Tapi hidup tidak memberiku pilihan itu.
Dari empat bersaudara, aku yang memilih berhenti.
Bukan karena aku tak ingin belajar, tapi karena aku harus tinggal-menjaga adikku yang masih bayi, dan membantu ibu agar kami tetap bisa bertahan.
Sejak saat itu, aku bukan lagi anak kecil.
Aku menjadi tulang punggung... di usia yang bahkan belum mengerti arti dunia.
Dan dari situlah, kisah ini dimulai.
All Rights Reserved