Before Midnight

Before Midnight

  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 16, 2026
Bagi dunia, Sienna Calaluna Arundhati hanyalah bayangan samar di tengah riuhnya koridor sekolah, Ketenangan yang ia bangun mendadak terusik saat sebuah kotak misterius mendarat di depan pintunya. Di dalamnya, beralaskan kain satin hitam, sepasang sepatu kaca berkilauan membawa sebuah peringatan "Wear this. But remember, leave before midnight." Di malam itu, Ia menjelma menjadi pusat semesta di tengah pesta , membius setiap pasang mata dengan kecantikan nya. Namun, tepat saat jam berdentang dua belas kali, keajaiban itu menagih harganya. Sihir itu tidak hanya luruh ia menghapus setiap jejak kehadiran Sienna dari ingatan semua orang. Seolah-olah, malam itu hanyalah sebuah glitch dalam sistem yang tak pernah terjadi. Keesokan harinya, Sienna kembali menjadi asing. Ia kembali menjadi gadis tak kasat mata di pojok kelas. Dunianya kembali normal, atau setidaknya itu yang ia pikirkan, sampai Skala Dewa Bimantara berdiri di hadapannya. Mata Skala justru terkunci pada bekas cakaran kucing di punggung tangan Sienna. Satu-satunya detail yang gagal dihapus oleh keajaiban mana pun. "Lo lari cepet banget tadi malem," suara Skala rendah "Ada yang ngejar, atau lo emang lagi nyoba jadi Cinderella?"
All Rights Reserved
#551
cinderella
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines