Memori manusia itu seperti debu di perpustakaan. Menumpuk diam-diam, menutupi hal-hal penting sampai seseorang datang untuk mengusapnya.
Bagi Seraphina, memori itu dimulai dari sepasang kaki kecil yang gemetar di bawah kolong meja makan, bersembunyi dari guntur yang mengamuk di langit Jakarta.
"Aku di sini, Sera," bisik suara yang saat itu masih cempreng. "Kalau petirnya mau tangkap kamu, dia harus lewat aku dulu."
Sepuluh tahun kemudian, tangan yang sama tidak lagi sekadar menggenggam. Tangan itu kini dibalut jaket kulit hitam yang keras, berlumur aroma aspal, dan memiliki urat-urat tegas hasil dari ribuan jam menghantam bola ke ring basket.
Arden Zavier Seorang kapten yang tampak abadi, seolah takdir tidak berani menyentuhnya kesempurnaannya. Namun, di balik sorak-sorai kemenangan di lapangan, Seraphina mulai menyadari sesuatu yang janggal. Dunia melihat Arden sebagai perisai baja. Namun Seraphina, dengan kacamata kotaknya, mulai melihat retakan-retakan kecil yang berusaha Arden tutupi dengan senyum miring dan gombalan receh.
Ini adalah cerita tentang dua jiwa yang tumbuh bersama dalam satu napas, tanpa menyadari, salah satu dari mereka sedang menghirup udara pinjaman. Seraphina percaya bahwa cerita mereka tidak akan pernah menjadi masa lalu. namun, diantara tawa dan janji masa depan, ada sebuah bab yang belum siap mereka baca. Sebuah bab terakhir yang ditulis dengan tinta yang perlahan memudar.
Karena terkadang, pahlawan paling hebat bukan dia yang menang dalam perkelahian, tapi dia yang tetap bertahan untuk memberikan satu detak terakhirnya demi orang yang ia cintai.
"Ren, kenapa setiap kali aku memelukmu, rasanya seperti sedang berpamitan?"
"Karena setiap detik sama kamu itu berharga, Sera. Sampai aku lupa kalau waktu itu punya batas."
Все права сохранены