Dulu, bagi Selin kisah cinta adalah sebuah naskah klasik yang tersusun rapi, penuh kata-kata manis, janji yang terstruktur, dan akhir yang tertebak. Selin hidup dalam silusi bahwa selama ia menjadi narator yang baik, ceritanya akan tetap sempurna. Namun, di Universitas Cakrawala, ia belajar bahwa naskah bisa robek, dan narator bisa dikhianati oleh tokoh utamanya sendiri.
Ketika dunianya yang puitis hancur menjadi serpihan, ia tidak menemukan pelampiasan di perpustakaan atau ruang rapat yang wangi. Ia justru menemukannya di sebuah tempat yang paling tidak masuk akal. Gendung Merah.
Tempat itu bising, kotor oleh oli, dan dipenuhi orang-orang yang bicara tanpa filter. Di sana, ia bertemu dengan seorang ketua BEM fakultas atau biasa dikenal dengan gubernur fakultas yang lebih memilih memegang kunci pas daripada memegang naskah pidato. Dia tidak menjanjikan pelangi, dia hanya menawarkan kopi pahit dan tumpangan motor di tengah hujan.
Ini bukan sekadar cerita tentang bagaimana ia melupakan masa lalu. Ini adalah tentang bagaimana logika mesin yang kasar bertemu dengan getaran rasa yang hancur. Tentang sebuah frekuensi yang tidak sengaja selaras di antara tumpukan besi dan baut yang berkarat.
Karena terkadang, hati yang rusak tidak butuh kutipan indah untuk sembuh. Ia hanya butuh Resonansi Mekanika yang tepat untuk kembali berdetak.
All Rights Reserved