Gardens on eARTh (the unsaid things)

Gardens on eARTh (the unsaid things)

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 28, 2026
Seni dan sastra adalah bentuk keabadian demi menyimpan rasa yang bahkan waktu tak mampu untuk menghapusnya. Tetapi, pernahkah engkau mendengar, bahwa jika dicintai oleh seorang seniman, maka engkau akan hidup selamanya dalam setiap karyanya? Mungkin saja pertemuan kali ini terasa seperti takdir yang awalnya terasa tenang, hangat, dan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa lagi disembunyikan. Namun, cinta tidak selalu berpihak pada dua hati yang tidak saling memilih bukan? Lantas, jika hal itu memang terjadi... Maka biarkan aku berjanji kalau kau akan selamanya abadi, meski tak pernah bisa aku miliki.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • You Are My Everything (END)
  • ANTON HANTU KEPALA TERBANG
  • EXTRAORDINARY BOSS
  • Almost Married (END)
  • You | Kim Yohan[✔]
  • DIFFERENT WOLD
  • EVERYDAY
  • The Villain Mother
  • Rise

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines