Park Jimin menjalankan hidupnya dengan seperempat hati. Dia tidak tahu kenapa hidupnya harus berlanjut ketika tidak ada alasan untuk melanjutkan. Karenanya, kehidupannya terbatas pada penjadwalan singkat. Hidup untuk mengerjakan kuis besok, hidup untuk menghadiri seminar Mingu depan, hidup untuk kompetisi tari di bulan berikutnya. Jika kemudian tidak ada yang harus dia lakukan di keesokan hari ataupun lusa, Jimin benar-benar akan menggorok nadinya dan mengucap selamat tinggal pada dunia. Luka lama yang dideritanya tidak pernah sembuh sebab tak diniatkan, tidak bahkan sekedar diguyur disinfektan. Luka itu tetap menganga, berdarah, bernanah dan menjadi busuk. Hanya ditutupi perban sewarna kulit sepanjang waktu. Park Jimin, tidak pernah berharap apa-apa pada kehidupan.
More details