Lirihku

Lirihku

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 17, 2026
"Jika tanaman memiliki air untuk bertahan, maka aku juga membutuhkan sosok pendukung, iyakan?" Feliza Rafflein Nasakara, gadis kecil dari keluarga bangsawan Nasakara. ia tumbuh diantara kemewahan dan kebahagiaan, setidaknya itulah yang orang-orang lihat tanpa tau latar belakang senyuman diwajahnya. Semua orang hanya memandangnya sebelah mana sebagai seorang nona muda, bukan sebagai seorang manusia biasa, ia membutuhkan kasih sayang, pemahaman, bukan sekedar rasa hormat seperti tuan putri. Liza hidup dipenuhi kasih sayang dari para pelayan dan pembantu, meskipun dia tahu itu semua hanya karna mereka dibayar, bukan dengan ketulusan mereka sendiri. Bahkan orang tuanya sendiri tak pernah memperlakukan dia layaknya anak, melainkan seperti alat pewaris harta, membuat Liza tak peka terhadap perilaku lembut yang terasa asing baginya. Hingga suatu ketika, ia bertemu seorang pemuda pemilik toko bunga. Perlakuan lembut pemuda itu sangat asing baginya, namun terasa nyaman dan pikirannya lebih lega, hingga timbul perasaan tak mengenakan dari keduanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines