Gue, Aurora Clarissa Adijaya, pindah sekolah bukan buat cari temen, apalagi drama cinta-cintaan lebay yang bikin mual. Ini sekolah ketiga gue dalam satu semester. Rekor yang cukup untuk bikin Bokap dan Nyokap gue berhenti berharap dan angkat tangan. Tapi persetan. Selama dunia masih memutar skenario yang busuk, gue akan tetap jadi peran antagonis yang membakar panggungnya. Di SMA Negeri yang ubinnya sudah retak dan udaranya lebih panas dari ruang sauna ini, gue bertemu dengan beberapa anomali. Pertama, Aruna Baskara. Si anak manja yang jadi ketua geng motor sangar. Dia dijuluki "Ajal" karena satu sekolah gemetar tiap dia lewat. Bagiku? Dia cuma sampah yang merasa punya kuasa karena modal nyali dan komplotan. Lalu, ada Edzar. Cowok culun yang hidupnya hancur karena skandal korupsi Bokapnya dan tragedi bunuh diri Nyokapnya. Seisi sekolah menjadikan luka Edzar sebagai bahan tertawaan, seolah penderitaan orang adalah hiburan gratis di jam istirahat. Melihat Edzar tersudut, ingatan gue ditarik paksa ke satu titik hitam: Sahabat gue yang milih "pulang" duluan karena nggak kuat menahan bullying di sekolah lama. Sumpah gue cuma satu: Gue nggak akan membiarkan naskah yang sama terulang. Saat semua orang tertawa liat Edzar diinjek, gue justru berdiri di depan dia. Gue nggak datang buat jadi pahlawan, gue cuma benci liat pecundang merasa punya tahta.
Tapi, ada satu hal yang di luar rencana. Entah kenapa, sejak hari itu, si Ajal yang biasanya beringas malah mulai berubah, dia yang seharusnya membenci gue karena gue injek harga dirinya, justru mulai menatap gue dengan cara yang berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi?
All Rights Reserved