Waktu telah berjalan dua tahun sejak kisah itu bersemi di lorong-lorong Fakultas Tarbiyah IAI Khozinatul Ulum Blora. Namun, bagi David, waktu seolah berhenti pada satu titik saat Sarah dengan lembut menolak cintanya dan memilih Ryan. Sejak saat itu, David belajar tersenyum dalam luka, berjalan di antara kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Kini, keadaan telah berubah. Sarah tak lagi bersama Ryan. Ia justru menemukan kedekatan baru dengan Hafiz, seorang lelaki dari desanya sendiri-sosok yang sederhana, dekat, dan perlahan mengisi ruang yang dulu pernah diperjuangkan David dengan sepenuh hati. Kabar bahwa Sarah akan melangkah menuju pernikahan dengan Hafiz menjadi luka yang kembali terbuka bagi David.
Di sisi lain, Ryan yang pernah menjadi pilihan Sarah, memilih pergi menjauh dari kenangan. Ia menata ulang hidupnya dengan melanjutkan studi S2 di UIN Walisongo Semarang, berharap bahwa jarak dan kesibukan akan menghapus bayang-bayang Sarah dari hatinya. Ia tidak lari, tapi mencoba berdamai.
Namun David berbeda. Ia tetap bertahan di tempat yang sama di antara harapan dan kenyataan. Meski tahu bahwa cintanya mungkin tak akan pernah berbalas, ia tetap menyimpan nama Sarah dalam doa-doanya. Baginya, mencintai bukan soal memiliki, tapi tentang keikhlasan menunggu, bahkan ketika yang ditunggu perlahan memilih jalan hidupnya sendiri.
Di tengah suasana kampus yang dulu menjadi saksi bisu kisah mereka, David masih sering terdiam mengenang tawa, percakapan singkat, dan tatapan yang dulu ia kira adalah pertanda cinta. Ia tak pernah benar-benar pergi dari perasaan itu.
Kisah ini bukan lagi tentang siapa yang menang atau kalah dalam cinta. Ini tentang hati yang tetap setia meski tak dimiliki, tentang harapan yang terus hidup meski perlahan dipatahkan oleh kenyataan.
Dan di akhir cerita, mungkin David akan belajar satu hal bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan kebersamaan, karena beberapa cinta diciptakan untuk mengajarkan keikhlasan... bukan untuk dimiliki.
All Rights Reserved