STAINED: BERCUMBU DENGAN LUKA [TAMAT]

STAINED: BERCUMBU DENGAN LUKA [TAMAT]

  • WpView
    Reads 176
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jun 6, 2026
"Karena noda yang paling dalam bukan di atas sprei, melainkan di dalam nadi." Nadira hidup dalam sangkar emas yang dingin. Bagi suaminya, Arman, ia hanyalah perabot mahal. Aksesori yang harus tampil sempurna namun dilarang bersuara. Nadira membusuk dalam kesepian, sementara Arman menyimpan rahasia tentang masa lalu yang tak pernah ia bagi. Lalu hadir Raka. Pria yang jauh lebih muda, tajam, dan membawa aroma bahaya. Raka bukan hanya sekadar pria asing yang muncul merusak ketenangannya dengan tatapan menggoda dan aroma leather yang memabukkan. Pria itu adalah badai yang dikirim untuk menghancurkan kewarasannya. Namun, di antara cinta dan ambisi, ada sebuah rahasia yang lebih kelam dari sekadar pengkhianatan: sebuah noda masa lalu yang mengikat darah mereka berdua. Saat batas antara benci dan obsesi mulai memudar, Nadira harus memilih: tetap menjadi pajangan yang berdebu , demi menyelamatkan sisa surga palsu, atau ikut terbakar di neraka pribadi yang diciptakan Raka. Sebuah kisah tentang kehancuran, manipulasi, dan cinta yang tumbuh di tempat yang salah. Selamat datang di medan perang. Selamat datang di STAINED.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines