Di dunia ini, setiap orang memiliki takdir yang melekat dan tidak bisa dihindari. Setiap orang akan terhubung dengan belahan jiwanya di usia 17 tahun. Sebagian menemukan benang merah melilit jari manis mereka, sebagian lagi memiliki tanda di tengkuk nya sebagai petunjuk bahwa ada seseorang yang hanya akan ada untuknya.
Tapi, tidak semua takdir berujung manis, Anggara Baskara Nareswati adalah sosok yang terkecualikan. Terlahir dengan sindrom hiperandrogenisme, ia tumbuh dalam kebingungan dan penolakan tidak berujung. Tidak ada yang benar-benar memahaminya, bahkan keluarganya sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan kedamaian, baginya sama sekali tidak berbeda dengan neraka abadi. Ibunya tenggelam dalam depresi berat dan selalu melampiaskan tanpa alasan. Ayahnya adalah pemabuk yang hilang arah, dan menjadikan Anggara sebagai pelampiasan. Kakaknya pergi merantau tanpa pernah kembali, meninggalkan semua cerita kelam yang ada di rumah itu. Hari-hari Anggara dipenuhi suram, kesepian dan ketakutan. Sebuah pertanyaan selalu terbesit dalam benak nya : 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢?
Kemudian hari itu tiba, hari dimana semua orang menunggu dengan harapan nyata, gugup dan berkeringat dingin menunggu belahan jiwa nya. Tidak ada benang merah yang muncul di jari manis nya, tidak ada tanda di tengkuk nya. Tidak ada petunjuk ia terhubung dengan belahan jiwa nya.
𝘒𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨.
Seolah dunia menolak keberadaan nya
𝘚𝘦𝘱𝘪.
Tidak ada yang menemani di sisinya
𝘏𝘢𝘮𝘱𝘢.
Harapan selalu sirna di tangannya.
Namun, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Muncul sebuah tanda, namun bukan pada dirinya. Seseorang yang sangat tidak ia harapkan. Seseorang yang selalu ingin dia hindari. Jika benar dialah orang nya, maka takdir seolah mengejek nya, kejam dan tidak berperasaa
All Rights Reserved