Sophie memahami dengan sangat baik bagaimana karakter Lady Lenore menemui ajalnya. Sebagai seorang kutu buku yang gemar membaca novel sekaligus penulis, ia telah menghafal setiap baris yang menggambarkan kematian tragis sang Lady di tangan suaminya sendiri, Lord Alistair von Eldermere.
Namun, saat terbangun dalam tubuh Lady Lenore, Sophie menyadari bahwa naskah yang dulu ia kenal bukan sekadar cerita melainkan lubang kubur yang telah disiapkan untuknya.
Di balik dinding kastil yang dingin, diselimuti aroma sandalwood yang menyesakkan, Sophie dipaksa memainkan peran terbaiknya. Ia bukan lagi sosok lemah yang pasrah pada alur; ia adalah penulis yang kini memegang rahasia terdalam sang tokoh antagonis.
Alistair digambarkan sebagai sosok mengerikan: kulit sepucat pualam, mata merah sedalam darah, dan obsesi yang mematikan. Dalam versi asli, ia membenci Lenore. Namun dalam kisah yang kini Sophie jalani yang perlahan ia tulis ulang tatapan Alistair berubah. Bukan lagi kebencian, melainkan rasa haus yang jauh lebih berbahaya.
Pertanyaannya, mampukah seorang penulis bertahan hidup di dalam cerita yang ia ciptakan sendiri terlebih saat ia harus menghadapi karakter yang sekaligus ia cintai dan takuti? Ataukah upaya mengubah takdir justru menjerumuskannya ke dalam jeratan obsesi yang lebih gelap?
All Rights Reserved