Vertio terlahir dengan kehidupan yang kelabu. Sejak kecil, dia diajarkan untuk menekan segala rasa, membuang ego, dan selalu menjadi "paling mengalah". Dia tumbuh menjadi pemuda yang tenang, dingin, dan terlalu dewasa untuk usianya. Tapi di balik wajah tenangnya, ada jiwa yang mati rasa. Dia hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Dia hanya bernapas dan menuruti aturan, hingga lupa siapa dirinya sebenarnya.
Hingga hari pertama dia melangkah masuk ke gerbang kampus.
Di tengah keramaian mahasiswa baru, dunianya yang rapi dan terstruktur bertabrakan keras dengan kekacauan bernama Virelle.
Gadis berambut merah marun dengan aura chaos yang menyengat. Virelle adalah definisi kebebasan yang liar, berisik, dan tidak peduli pada aturan siapa pun. Dia tidak datang untuk berteman, dia datang untuk mengacaukan segalanya.
"Lo tuh kayak patung, Tio. Cantik sih... tapi beku."
Virelle bukan pahlawan yang datang menyelamatkan. Dia adalah badai yang sengaja datang menghancurkan tembok tebal yang Vertio bangun bertahun-tahun. Dengan pertanyaan tajam dan sikapnya yang tak kenal takut, Virelle memaksa Vertio untuk merasakan lagi. Marah, jengkel, bahagia, dan cinta.
Tapi perubahan itu menakutkan.
Vertio takut jika emosinya meledak, dia tidak akan bisa mengendalikannya lagi.
Sementara Virelle... dia diam-diam takut terikat, takut jika jatuh cinta berarti kehilangan kebebasannya.
Di antara hitamnya dunia yang keras dan merah semangat yang membara, bisakah dua orang yang sama-sama rapuh ini saling menemukan... tanpa saling menghancurkan?
"Dia bukan penyelamat. Dia adalah api yang membakar duniaku yang beku... dan membuatku sadar bahwa aku masih bisa merasa." 🔥🥀
All Rights Reserved