Ternyata Kamu Rumahnya

Ternyata Kamu Rumahnya

  • WpView
    Membaca 29
  • WpVote
    Vote 24
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Apr 24, 2026
WpInfo
Fiksi
Romansa
Rembulan adalah tipe perempuan yang jika sudah mencintai... ia akan memberikan segalanya. Masalahnya, tidak pernah benar-benar memilihnya. Datang saat butuh, pergi tanpa alasan. Namun, Rembulan tetap bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seseorang bernama Bhumi. Tidak ada yang istimewa di awal. Hanya sapaan sederhana, sikap tengil yang terkadang menyebalkan, dan kehadiran yang terus berulang. Namun dari hal-hal kecil itu, Bhumi perlahan menjadi sesuatu yang tidak pernah Rembulan rencanakan, seseorang yang selalu ada, tanpa perlu diminta. Dari yang awalnya asing, menjadi dekat. Dari yang sekadar hadir, menjadi tempat untuk pulang. Di saat Rembulan masih berusaha mempertahankan masa lalunya, ada seseorang yang diam-diam memilih untuk tetap menemaninya. Dan ketika semuanya mulai berubah, Rembulan harus memilih: bertahan pada perasaan yang tidak pasti, atau menerima seseorang yang sejak awal tidak pernah pergi. Karena pada akhirnya, rumah bukan tentang siapa yang pertama kali kita tuju melainkan tentang siapa yang tetap ada, saat kita lelah mencari ke mana-mana.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#496
kasihsayang
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan