Daraz: When the Call Connected (Hiat)

Daraz: When the Call Connected (Hiat)

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 9, 2026
Aku menyukainya, tapi tidak dengan cara yang berisik. Dia adalah azkara cowo dengan sejuta pesona di sekolah-yang selalu dikerumuni, yang namanya jadi bahan obrolan, yang senyumnya bisa dengan mudah membuat siapa saja jatuh. Sementara aku? Hanya seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakang, cukup dekat untuk melihatnya, tapi terlalu jauh untuk benar-benar mengenalnya. Setiap kali dia tertawa, aku ikut merasa hangat. Setiap kali dia berjalan melewati koridor, tanpa sadar mataku mencarinya. Tapi aku juga tahu, di antara banyaknya orang yang menginginkannya, aku hanyalah satu dari sekian banyak kemungkinan yang bahkan mungkin tidak pernah dia sadari. Menyukainya terasa seperti mengejar sesuatu yang tidak bisa kugapai. Bukan karena aku tidak ingin mencoba, tapi karena aku terlalu sadar-dia berada di tempat yang tinggi, sementara aku masih belajar untuk berdiri tanpa ragu. Jadi aku memilih diam. Menyimpan semua rasa ini dalam-dalam, menjadikannya rahasia yang hanya aku dan hati kecilku yang tahu. Karena terkadang, mencintai tidak harus memiliki. Terkadang, cukup melihatnya bahagia saja... meskipun bukan bersamaku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines