Days With Her

Days With Her

  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 15, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Di saat hati terasa benar-benar hancur, seperti kehilangan arah dan warna, aku tidak pernah menyangka bahwa "obat" itu akan datang dalam bentuk seseorang yang baru. Bukan dengan janji besar atau kata-kata manis yang berlebihan, tapi lewat hal-hal kecil yang perlahan menenangkan luka yang dulu terasa begitu dalam. Dia hadir tanpa memaksa, tanpa mencoba menggantikan masa lalu, hanya memberi ruang untuk aku kembali percaya bahwa cinta tidak selalu menyakitkan. Bersamanya, aku belajar lagi bagaimana rasanya dihargai, didengarkan, dan dipeluk tanpa rasa takut. Hal-hal sederhana seperti tawa ringan, perhatian yang tulus, dan kehadiran yang konsisten menjadi sesuatu yang begitu berharga. Dia tidak menghapus luka lama seketika, tapi perlahan mengajarkanku bahwa hati ini masih layak untuk bahagia. Dan tanpa kusadari, dari seseorang yang dulu takut untuk jatuh cinta lagi, aku berubah menjadi seseorang yang berani membuka hati. Karena ternyata, obat terbaik dari patah hati bukanlah melupakan, tapi menemukan seseorang yang mampu mencintaimu dengan cara yang lebih lembut, lebih hangat, dan lebih nyata.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines