Rumah...
Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata itu?
Sebagian orang menyebutnya tempat "pulang".
Sebagian lainnya, tempat "menemukan diri sendiri".
Tapi bagi Alea Navira,
rumah... tidak sesederhana itu.
Ia terbiasa memendam.
Terbiasa tersenyum dan berkata "tidak apa-apa",
bahkan saat di dalam dirinya perlahan runtuh.
Sampai Zayden Alvero-sahabat masa kecil yang tak pernah benar-benar pergi-tetap ada di sisinya.
Tanpa banyak kata,
tanpa janji berlebihan,
Zayden membuat Alea percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan untuk pertama kalinya,
Alea merasa aman.
Tapi di saat yang sama,
ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya-
bolehkah ia menjadi egois,
jika ia ingin Zayden tetap di sana... selamanya?
boleh kan?
Todos os Direitos Reservados