Bau apek ruangan itu bercampur dengan keringat basi, tumpahan arak murah, dan keputusasaan yang mengendap di sela-sela dinding tripleks yang mulai lapuk. Sinar bulan yang pucat menembus celah genting yang bocor, jatuh tepat di atas lantai semen yang dingin. Di sana Rayyan tersungkur. Ia bisa merasakan tekstur kasar semen itu menempel di pipinya yang panas karena hantaman.
Remaja itu tidak bergerak. Bukan karena ia pingsan, melainkan karena ia sedang menghitung detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di telinga. Satu, dua, tiga... ia menunggu ledakan kemarahan berikutnya.
"Mana? Cuma segini?!" Suara berat itu menggema, disusul suara botol kaca yang diletakkan kasar di atas meja kayu yang reyot.
Perlahan mengangkat kepalanya. Rambutnya menutupi dahi, namun tidak bisa menyembunyikan kilatan amarah di matanya yang tajam. Di depannya, berdiri sesosok pria yang seharusnya ia panggil 'Ayah', namun baginya, pria itu hanyalah monster yang kebetulan berbagi darah dengannya. Pria itu berdiri sempoyongan, napasnya berbau alkohol tajam yang membuat lambung Rayyan mual.
_____
Sebelumnya, maap ya ges. Ini cerita fiksi ya, gak nyata. Jadi maap maap aja kalau ceritanya kadang diluar nalar. Soalnya ini murni cuman khayalan aja😃
Oh ya, karna latar ceritnaya seputar sekolah dan bar. Rating ceritanya dewasa ya, yah maapin kalau ceritanya terkesan dilebihkan, karna saya suka sesuatu yang agak dilebih-lebihkan🤣
Todos os Direitos Reservados