Simfoni Kasih-Mu

Simfoni Kasih-Mu

  • WpView
    Reads 248
  • WpVote
    Votes 57
  • WpPart
    Parts 57
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 20 hours ago
Rani tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu cepat. - Di tengah musim kehidupan yang tak pernah ia bayangkan, Tuhan mempertemukannya dengan Deni-seorang pria yang mengajarkannya bahwa kasih bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan untuk tetap setia berjalan bersama. - Saat rencana demi rencana harus dilepaskan, Rani belajar bahwa terkadang Tuhan mengizinkan sebuah duri dalam daging tetap ada, bukan untuk menjauhkan kita dari-Nya, melainkan agar kita semakin bergantung pada kasih karunia-Nya. - Di balik setiap doa yang terasa sunyi dan setiap langkah yang penuh ketidakpastian, penyertaan Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Sebuah kisah tentang kasih, iman, pengharapan, dan bagaimana Tuhan sanggup menulis cerita terindah, bahkan ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan. (c) Ebefey (2026) # Status: 26/6: R1_deskripsi
All Rights Reserved
#42
friendzone
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Istri Tuan Panji
  • De Andere Weg (END)
  • Suami Dosen Killer
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines