Ini Jama, anaknya Bapak Mahesa yang baru berusia 5 tahun dan bersekolah di TK di dekat gang rumahnya. Bocah kecil berseragam rapi ini selalu tersenyum ramah pada setiap orang yang ia kenal. Jama ini sudah lama di tinggal Ibunya setelah perceraian kedua orangtuanya beberapa tahun yang lalu, saat usianya masih berangka 2 tahun. Setelah selesai sidang perceraian, Mahesa mendapatkan hak asuh anaknya yang ia perjuangkan mati-matian agar tidak jatuh ke tangan istrinya.
Arumi itu baik dan Mahesa akui. Tapi tidak dengan keluarga dan calon suami mantan istrinya. Mereka terlalu jelas menolak keberadaan Anaknya. Padahal Jama adalah anak yang baik, penurut, ramah, dan sopan. Tidak ada satu hari pun Jama membuat Mahesa ketakutan saat meninggalkan anaknya seorang diri di rumah saat larangan tempat kerja membawa anak kecil.
Jama itu pintar, di saat teman-temannya belum paham dengan ponsel. Anak kecil itu paham bukan karena di manjakan melainkan situasi yang membuatnya harus paham bahwa ponsel itu penting untuk menghubungi Bapaknya dan orang-orang yang bisa menolongnya saat sulit saat di tinggalkan.
Cita-cita si kecil juga sederhana: Pengen bawa Bapak jalan-jalan pakai sepeda listrik. Padahal tinggal minta Bapak pergi ke taman, dan sewa sepeda listrik, maka cita-cita si kecil akan tercapai. Tapi Jama menolak usulan dari tetangganya itu dan memilih untuk menabung sampai bisa beli sepeda listrik.
Namun ketenangan itu sirna saat Arumi dan Arya memilih untuk mengambil Jama karena tuntutan orangtua pihak Arya yang meminta seorang keturunan. Akankah Mahesa bisa mempertahankan kebahagiaan dan anaknya?
Todos os Direitos Reservados