Di balik tiga kata suci yang dikumandangkan para penjajah - Gold, Glory, Gospel - tersembunyi agenda keempat yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah manapun: Gay.
Tahun 1595, di bawah bulan purnama Banten, seorang navigator Belanda bernama Pieter van Leeuwen mengucapkan sumpah terlarang bersama tiga awak kapalnya:
"Gold untuk kantong, Glory untuk mahkota, Gospel untuk jiwa... dan Gay untuk hati yang tak terkalahkan."
Di balik misi resmi VOC menjajah Nusantara, tersembunyi tujuan keempat yang gelap dan mematikan: menyebarkan ikatan cinta sesama pria sebagai senjata penaklukan paling ampuh. Bukan dengan pedang, bukan dengan Alkitab, melainkan dengan tubuh dan nafsu yang tak bisa ditolak.
Dari istana Banten, keraton Mataram, pesantren-pesantren Jawa, hingga perkebunan Priangan dan tebing Cirebon - sebuah persaudaraan rahasia bernama Fraternitas Amoris Virilis menyebar dalam diam selama lebih dari 350 tahun. Raja, sultan, ulama, panglima, priyayi, bahkan santri... semua jatuh ke dalam pelukan yang manis sekaligus mematikan.
Karena kadang, penjajahan paling berbahaya bukan yang dilakukan dengan kekerasan.
Melainkan yang dilakukan dengan kenikmatan.
"Mereka datang untuk emas, kemuliaan, dan Injil...
Tapi yang mereka tanamkan di Nusantara adalah dosa paling manis sepanjang sejarah."
All Rights Reserved