"Aku tidak pernah menjadi pilihan pertama siapa pun." Kalimat itu pernah Elora Maheswari tulis di halaman terakhir buku hariannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu ia adalah gadis yang mudah dikenali. Bukan karena cantik. Bukan karena pintar. Melainkan karena tubuhnya yang gemuk, kacamata tebal yang hampir selalu melorot, dan kebiasaannya menghabiskan waktu di perpustakaan saat anak-anak lain bermain di lapangan. Elora kecil sudah terbiasa mendengar ejekan. "Gendut." "Kutu buku." "Aneh." Berbagai sebutan lain yang bahkan masih bisa ia ingat hingga sekarang. Namun di antara semua kenangan itu, ada satu sosok yang tidak pernah berhasil ia lupakan. Kailan Arseno. Anak laki-laki paling populer di sekolah. Pintar. Tampan. Dingin, sangat sulit didekati. Anehnya, justru karena itulah Elora mengaguminya. Kailan tidak pernah membelanya. Tapi Kailan juga tidak pernah ikut menertawakannya. Saat teman-teman lain sibuk mengejek, Kailan hanya berjalan melewati mereka dengan wajah datar seolah semua itu tidak penting. Bagi orang lain mungkin itu biasa saja. Namun bagi Elora kecil yang hampir tidak pernah diperlakukan baik, sikap netral Kailan terasa seperti kebaikan terbesar yang pernah ia terima. Sejak saat itu, diam-diam ia menyukainya. Menyukainya selama bertahun-tahun. Sendirian. Tanpa pernah berani mengatakannya. Tanpa pernah berharap perasaannya akan terbalas. Karena Elora tahu. Langit dan bumi tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Kailan Arseno adalah langit yang terlalu tinggi untuk ia gapai.
More details