Renungan Insani

Renungan Insani

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 17, 2026
Judul: Renungan Insani Penulis: A. A. Ran Raxen Genre: Puisi Religi / Spiritual / Filosofis Tipe Puisi: Puisi Reflektif Tone: Melankolis namun Berwibawa (Deep & Empowering). Dunia adalah ruang bagi paradoks. Kita sering kali terjebak dalam labirin pilihan yang sama-sama menyayat-antara bertahan namun terbakar, atau melepaskan namun membeku dalam kesunyian. Namun, di balik segala luka dan dualitas yang menyiksa, ada satu titik balik di mana rasa sakit tidak lagi menjadi siksaan, melainkan proses pemurnian. Renungan Insani adalah sebuah perjalanan pulang. Sebuah pengakuan bahwa ketika raga menyeret asa dan menahan lapar, jiwa tetap bisa tegak selama ia memanji pada Sang Maha. Bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan pada kenyangnya raga atau hawa nafsu yang terpenuhi, melainkan pada ketenangan atma yang bermahkotakan budi dan bertahtakan tashdiq. Sembuh bukan berarti lupa. Sembuh adalah ketika kita mampu mengingat luka tanpa lagi harus bereaksi padanya, karena fokus kita telah berpindah: dari makhluk, menuju Sang Khaliq. "Sebab pada akhirnya, yang fana akan sirna, dan hanya yang tertaut pada-Nya yang akan menemukan singgasana damai di dalam dada"
All Rights Reserved
#3
elegy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • First Love, Not the First
  • My Moon And Mood Spirit
  • 𝑳𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒈𝒖 : 𝐸𝑁𝐻𝑌𝑃𝐸𝑁 巛ˢⁱⁿᶜᵉ₂₀₂₀
  • merry a rich men || QIUXING
  • The Child He Left Behind (FOXYPAN)
  • THE HEIR OF SIN (FOXYPAN)
  • HOME
  • Leonids
  • COOL BOY AND NEET CRAZY GIRL  [fatqeel]

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines