SETANGKAI TULIP DI BATAVIA (BL)

SETANGKAI TULIP DI BATAVIA (BL)

  • WpView
    Reads 47,492
  • WpVote
    Votes 4,174
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadComplete Fri, Jun 26, 2026
⚠️*WARNING : INI BL, TIDAK DIANJURKAN UNTUK PARA HOMOPHOBIC*⚠️ Batavia, 1687. Kota yang dibangun di atas rawa dan duka. Lois Fin Bocah keturunan Belanda membenci Batavia - bahangnya, lumpurnya, tatap ibanya. Sampai ia menemukan Wira Pratama, bocah jalanan sekarat di balik gudang Kompeni. Bagi Wira, Lois adalah malaikat. Setangkai tulip pertama yang mekar di tanah berlumpur, terlalu suci untuk dunia. Maka Wira bersumpah menjaga dengan peluk yang risih, dengan setia yang melampaui titah tuan. Di bawah tatap angkuh sang paman dan panji VOC, keduanya saling berpegang. Peluk yang risih menjelma candu, setia lebih dari sumpah. Di tanah jajahan yang tak mengenal belas kasih, dua jiwa menautkan takdir: satu malaikat, satu penjaga. Dan cinta yang tumbuh diam-diam, lebih harum dari rempah.
All Rights Reserved
#74
voc
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines