SETANGKAI TULIP DI BATAVIA (BL)

SETANGKAI TULIP DI BATAVIA (BL)

  • WpView
    Reads 57,698
  • WpVote
    Votes 4,729
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadComplete Sat, Aug 15, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Happy Ending
Romantic Comedy
First Love
⚠️*WARNING : INI BL, TIDAK DIANJURKAN UNTUK PARA HOMOPHOBIC*⚠️ Batavia, 1687. Kota yang dibangun di atas rawa dan duka. Lois Fin Bocah keturunan Belanda membenci Batavia - bahangnya, lumpurnya, tatap ibanya. Sampai ia menemukan Wira Pratama, bocah jalanan sekarat di balik gudang Kompeni. Bagi Wira, Lois adalah malaikat. Setangkai tulip pertama yang mekar di tanah berlumpur, terlalu suci untuk dunia. Maka Wira bersumpah menjaga dengan peluk yang risih, dengan setia yang melampaui titah tuan. Di bawah tatap angkuh sang paman dan panji VOC, keduanya saling berpegang. Peluk yang risih menjelma candu, setia lebih dari sumpah. Di tanah jajahan yang tak mengenal belas kasih, dua jiwa menautkan takdir: satu malaikat, satu penjaga. Dan cinta yang tumbuh diam-diam, lebih harum dari rempah.
All Rights Reserved
#81
voc
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mulih (END)
  • EINSTEIN [END]
  • Círculo del Destino
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • The Mafia's Sinful Obsession
  • The Last Yes!
  • Sweetly Tied
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan

GPH Giandra Abisatya Soetjipto, penerus adipati Danadyaksa, tahu bahwa jalan hidupnya sudah ditentukan jauh sebelum ia sempat memilih. Yang tidak ada dalam ekspektasi Gian adalah bertemu dengan Aurea Danika, seorang Senior Consultant dari Jakarta yang sedang rekreasi bersama teman-teman kantornya ke Pura Danadyaksa dan tiba-tiba masuk ke perpustakaan milik pura yang seharusnya tidak terbuka untuk umum. "Dan aku dengan enaknya manggil kamu Gian gitu aja? Aku bakal kena hukum adat kah, Gi? Eh, Gusti?" "Santai aja, Re. Temen-temenku juga udah tau aku siapa tapi masih manggilnya Gian, kadang Bro, kadang Nyet, kadang-serius, Re. Aman aja. Masyarakat Solo aja juga kadang manggilnya Mas, kok. Gapapa, ini bukan zaman kerajaan dulu." Dari perpustakaan tua ke Pasar Gede, dari malam-malam di ruang kerja hingga sarapan bersama keluarga yang tidak pernah mereka rencanakan, Rea dan Gian menemukan sesuatu yang tidak mereka cari. Tapi di balik tembok Pura Danadyaksa, ada kepentingan yang lebih besar dari perasaan dan harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan yang dibuat. Mulih : Pulang, kembali ke rumah (Illustrations of Rea and Gian were drawn by @hi.buttery on Instagram)

More details
WpActionLinkContent Guidelines