Ghena pernah hidup sekali...dan itu sudah cukup untuk menghancurkannya.
Dibenci oleh keluarganya sendiri, hidup tanpa kasih sayang, hingga penyakit jantung merenggut nyawanya di usia tujuh belas. Penyesalan datang... tapi semuanya terlambat.
.
.
.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua.
Ia terlahir kembali sebagai anak dari adiknya sendiri-dengan wajah, sifat, dan nama yang sama.
Keluarga yang dulu menyakitinya kini berubah.
Mereka menyayanginya. Menjaganya.
Seolah ingin menebus semua kesalahan yang pernah mereka lakukan.
Tapi tidak untuknya.
.
.
.
Bagi Ghena, luka itu masih ada.
Masih nyata.
Dan mungkin... tidak akan pernah hilang.
Ibunya adalah wanita yang dulu paling melukainya-kini hidup dalam ketakutan.
Takut jika anak di hadapannya... benar-benar Ghena yang dulu.
Ia mencoba mendekat.
Mencoba memperbaiki.
Mencoba mengucapkan kata yang dulu tak pernah ia beri-
"maaf."
Namun setiap langkahnya terasa sia-sia.
Karena bagi Ghena, semuanya sudah terlambat.
Dan di dalam diamnya, sebuah pertanyaan terus muncul-
.
.
.
Jika luka yang dulu dibuat begitu dalam...
apakah kata "maaf" benar-benar cukup untuk menebusnya?
Saat usianya menginjak enam belas tahun, hidupnya mulai berubah.
Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi.
Hal-hal kecil yang hampir merenggut nyawanya, datang berulang-seolah bukan kebetulan.
Seolah takdir... sedang mengulang dirinya.
Dan Ghena tahu satu hal.
Di kehidupan sebelumnya, ia mati di usia tujuh belas.
Sekarang, ia sudah enam belas.
Artinya
.
.
.
ia hanya punya 365 hari tersisa.
Anehnya, Ghena tidak takut.
Ia sudah terlalu lelah untuk peduli apakah ia hidup atau mati.
Dan kini, dengan waktu yang terus berjalan-
pertanyaannya bukan lagi tentang bagaimana cara bertahan.
Tapi...
.
.
.
apakah aku masih ingin hidup?
.
.
.
haiii guysss saya hanyalah penulis baru dan jika ada salah kata mohon maaf yaa terimakasih
All Rights Reserved