Langit sore itu tampak biasa saja, tapi entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya.
Aku duduk di pinggir jalan, melihat orang-orang berlalu lalang dengan wajah lelah. Di tangan mereka, ada kantong belanja, ada ponsel, ada juga harapan yang mungkin sudah lama menipis.
"Kita boleh miskin, tapi jangan bermental miskin."
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Tapi semakin aku melihat sekitar, semakin aku bertanya-tanya... masihkah kalimat itu hidup di negeri ini?
Hidup terasa makin sulit. Harga naik, uang seakan kehilangan arti. Banyak orang bertahan bukan untuk hidup layak, tapi sekadar tidak jatuh hari ini. Di sudut lain, ada yang terlilit utang, terjebak dalam lingkaran yang sulit dilepaskan.
Lalu aku melihat anak-anak muda.
Sebagian dari mereka tidak lagi bermimpi besar. Mereka hanya ingin cepat kaya. Judi online menjadi pelarian-sebuah harapan palsu yang menjanjikan segalanya, tapi diam-diam mengambil semuanya.
Aku ingin marah. Tapi lebih dari itu, aku merasa kosong.
Karena di atas sana, orang-orang yang seharusnya menjadi contoh justru sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kata "amanah" terdengar indah di pidato, tapi sering hilang dalam kenyataan. Korupsi bukan lagi cerita baru-ia seperti luka lama yang terus dibiarkan terbuka.
Dan yang paling membuatku diam...
Semua ini seperti dianggap biasa.
Tidak banyak yang benar-benar bersuara. Tidak banyak yang benar-benar peduli. Seolah-olah kita sudah lelah berharap, lalu memilih untuk terbiasa.
Aku menatap langit lagi.
Mungkin kita memang tidak bisa memilih lahir dalam keadaan kaya atau miskin.
Tapi kita selalu punya pilihan... untuk tidak kehilangan cara berpikir yang benar.
Karena ketika mental kita ikut jatuh, saat itulah kita benar-benar kalah.
All Rights Reserved