THE LOST QUEEN AND THE THE MINI ICE

THE LOST QUEEN AND THE THE MINI ICE

  • WpView
    Reads 1,328
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 34
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 19, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
"Gue nggak mau ya kalau rumah lo nggak ada kolam renang yang bisa buat floating breakfast!" Haruto menghentikan gerakan pulpennya di atas dokumen. Dia mendongak perlahan, menatap gadis yang kini sudah resmi menyandang status sebagai istrinya-si cantik yang lebih mirip badai daripada manusia. "Pertama, perbaiki panggilan kamu. Saya bukan teman sebaya kamu," ucap Haruto dingin. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang sunyi itu. Canny mendengus, memutar bola matanya malas. "Dih, kaku banget sih? Terus gue harus panggil apa? Mas? Abang? Sayang?" Haruto tidak bereaksi sedikit pun terhadap godaan centil Canny. "Terserah. Asal bukan 'Lo-Gue'. Itu tidak sopan di telinga saya." Canny berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah kursi Haruto. Dia sengaja membungkuk sedikit, menatap wajah Haruto yang kelewat sempurna dari jarak dekat. "Oke, Pak CEO. Terus kalau saya mau belanja pakai uang Bapak, boleh nggak?" Haruto mengeluarkan sebuah kartu kredit dari saku jasnya tanpa menoleh ke arah Canny. "Gunakan secukupnya. Jangan membuat saya menerima notifikasi transaksi setiap menit." Canny menyambar kartu itu, matanya berbinar. "Siap, Haruto-nya Canny! Aku pergi dulu ya, Sayang!" "Canny," panggil Haruto tepat sebelum gadis itu mencapai pintu. Canny menoleh sambil nyengir lebar. "Ya?" "Jangan pulang lewat jam sembilan malam. Saya tidak suka menunggu," ucap Haruto tegas, kembali menekuni tumpukan kertas di depannya tanpa ekspresi.
All Rights Reserved
#3
possesive
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines