RUMOR OFFICE [END]

RUMOR OFFICE [END]

  • WpView
    Reads 30,863
  • WpVote
    Votes 1,847
  • WpPart
    Parts 42
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 17, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Bayangkan bekerja enam puluh jam seminggu, menyelesaikan laporan dengan akurasi nyaris sempurna, dan menuai bonus bukan karena kerja kerasmu-tapi karena semua orang mengira kau tidur dengan bosmu. Itulah hidup Adinka Maharani selama setahun terakhir. Setiap kali Direktur Ardian Wisesa memujinya, riak-riak bisikan mulai menyebar dari bilik ke bilik. Setiap kali amplop bonus mendarat di mejanya, tatapan-tatapan curiga mengikutinya sampai ke pantry. Padahal Ardian sudah bertunangan dengan Isabella, perempuan blasteran Australia-Spanyol yang bekerja di kantor cabang luar negeri. Padahal Adinka tidak pernah sekalipun melanggar batas profesionalnya. Tapi dunia korporat tidak pernah adil pada perempuan cemerlang. Seseorang di kantor itu-seseorang yang terlalu rapi untuk dicurigai-perlahan meracuni seluruh divisi dengan narasi bahwa Adinka adalah "simpanan bos". Dan rumor itu terus hidup, terus menggema, terus menggerogoti reputasinya, sampai suatu malam di hotel bintang lima segalanya meledak. Keesokan paginya, skandal itu tersebar ke seluruh kantor. Rumor yang selama setahun ia bantah kini memiliki wajah. Tapi Ardian tidak ingat apa pun. Dan saat Adinka mulai mencari tahu siapa dalang di balik semua ini, ia justru menemukan bahwa ancaman terbesar bukanlah pembenci rahasia di kantor. Melainkan keluarganya sendiri. Keluarga besar Wisesa yang juga menolak mentah-mentah kehadirannya hingga kejadian memalukan yang menjadi momok menakutkan Adinka. Sepupu-sepupu yang membandingkannya dengan Bella beserta sebuah pertunangan bisnis yang tak pernah didasari cinta-tapi cukup kuat untuk menghancurkan siapa pun yang berdiri di tengahnya. Kemudian Bella datang ke Jakarta. Semua orang menduga ia akan mencakar Adinka. Semua orang menunggu kemarahan seorang tunangan yang dikhianati. Tapi Bella justru menyapa Adinka dengan hangat dan bertanya dengan suara yang nyaris bergetar, "How are you feeling? Are you okay?"
All Rights Reserved
#139
corporate
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines