"Dunia itu gelap, Gendis. Dan di dalam kegelapan, cuma gue yang bisa jadi mata lo." Gendis mengira kehilangan penglihatannya adalah tragedi terburuk dalam hidupnya. Ia salah. Tragedi yang sesungguhnya dimulai saat Elang Ardiansyah mengunci pintu kamar, melingkarkan gelang perak di pergelangan tangannya, dan berbisik tepat di depan bibirnya. "Lo nggak butuh cahaya. Lo cuma butuh gue." Bagi dunia, Elang adalah pahlawan. Bagi Gendis, Elang adalah sangkar emas yang perlahan-lahan merenggut napasnya. Di rumah ini, kebaikan adalah manipulasi, dan cinta adalah cara Elang memastikan Gendis tidak akan pernah bisa pergi.
Więcej szczegółów