SURAWISESA: Sang Kuwanen
Di balik gemerlap keemasan Pajajaran di bawah Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), putranya, Surawisesa, harus menerima kenyataan pahit. Ia mewarisi takhta (1521-1535 Masehi) di saat badai Islamisasi dari Demak dan Cirebon mulai menggerus tapal batas kerajaan.
Dibesarkan sebagai pangeran yang dibanggakan, ia dipuji dalam Carita Parahiyangan dengan gelar "Kasuran, Kadiran, dan Kuwanen" (Perwira, Perkasa, Pemberani). Selama 14 tahun, ia memimpin 15 kali pertempuran untuk mempertahankan kehormatan Pajajaran, menjadikannya raja paling agresif di masanya.
Namun, keberaniannya juga dihadapkan pada dilema politik. Untuk membendung gelombang Islam, ia menjalin perjanjian kontroversial dengan bangsa asing, Portugis. Perjanjian ini, yang di satu sisi menjanjikan pertahanan, di sisi lain mengundang kecemasan dan serangan besar-besaran dari musuh.
Ikuti kisah dramatis seorang ksatria yang hidup di masa senja kejayaan. Apakah keberanian seorang raja cukup untuk melawan takdir keruntuhan?