Tidak semua perpisahan terasa menyakitkan. Ada yang justru datang dengan tenang... terlalu tenang, sampai kita tidak sadar bahwa sesuatu sedang berubah.
Langit di luar gelap, hanya dihiasi cahaya-cahaya kecil dari kota yang perlahan menjauh. Indonesia rumahnya perlahan mengecil, menjadi titik-titik yang akhirnya hilang.
Ia tidak menangis.
Tidak seperti dulu.
Tangannya tidak gemetar, napasnya teratur. Bahkan pikirannya pun terasa lebih jernih dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia sudah pulih.
Setidaknya... itu yang semua orang lihat.
Zee menyandarkan kepalanya ke kaca dingin, matanya tetap menatap keluar, tapi pikirannya jauh melayang ke satu tempat
rumah.
Empat perempuan.
Empat dunia yang berbeda, tapi selalu kembali pada satu titik yang sama.
Shania, dengan segala ketegasan dan tanggung jawabnya, yang diam-diam selalu menjadi penopang saat semua orang hampir runtuh.
Ge, dengan kehangatan yang tidak pernah habis, yang tahu kapan harus bicara dan kapan cukup memeluk.
Christy, dengan dunia kecilnya yang penuh warna, yang selalu berhasil membuat semuanya terasa lebih ringan, bahkan di hari-hari yang paling berat.
Dan dirinya sendiri
Zee.
Yang pernah hilang.
Yang pernah jatuh terlalu dalam sampai lupa bagaimana caranya berdiri.
Namun sekarang, ia kembali melangkah.
Bukan karena sudah tidak takut.
Tapi karena ia tahu... ke mana harus pulang.
Lampu kabin meredup.
Suara pengumuman terdengar samar.
Perjalanan panjang baru saja dimulai.
Tapi di antara ribuan kilometer yang memisahkan, ada satu hal yang tidak ikut tertinggal-
ikatan yang tidak terlihat.
Yang tidak bisa diputus oleh jarak.
Yang tidak akan hilang, bahkan ketika waktu mencoba mengubah segalanya.
Zee menutup matanya perlahan.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar siap menghadapi dunia.
Namun ia tidak tahu
bahwa di tempat yang jauh itu,
ia tidak hanya akan menemukan mimpi-mimpinya.
Ia juga akan menemukan sesuatu yang...
mengujinya kembali.
All Rights Reserved