Setelah patah hati terbesarnya, Rania mengubah cara pandangnya tentang cinta. Ia memulai kehidupan barunya di Jakarta. Hari-harinya dipenuhi dengan tumpukan naskah, tenggat waktu, dan secangkir kopi. Hidup di tengah hiruk-pikuk kota, Rania menemukan kehangatan dan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di sebuah library cafe. Di tempat itulah Rania bertemu dengan Ammar. Pertemuan mereka bermula dari obrolan ringan tentang buku yang Rania baca. Sayangnya, pertemuan sederhana itu menjadi kali pertama dan terakhir Rania dan Ammar berjumpa. Mereka tidak sempat bertukar nomor untuk tetap terhubung, hanya nama panggilan dan percakapan yang menjadi pengingat. Rania kehilangan jejak Ammar.
More details