A Love That Found Me Last

A Love That Found Me Last

  • WpView
    Reads 84
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 1, 2026
18+ Calla tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di depan kamera seperti ini-bukan sebagai aktris, bukan sebagai cameo tanpa nama, tapi sebagai dirinya sendiri. Atau versi dirinya yang sudah disusun rapi. Calla datang ke dating show itu bukan untuk cinta. Ia datang untuk kabur. Dari perjodohan. Dari tekanan. Dari kehidupan yang sudah ia bangun terlalu keras untuk dibagi dengan orang lain. Di antara perempuan-perempuan yang terlihat sempurna, Calla hanya menjadi latar. Tidak dipilih. Tidak dicari. Tidak terlihat. Sampai satu orang mulai melihatnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Photograph; Chanyeol Seulgi ✔
  • Sailing of Love (Revisi-Tamat)
  • Almost Married (END)
  • Overruled, Senopati
  • DISCOVERY OF LOVE (Season 2)
  • LOVE YOU, OLD MAN (Completed)
  • Maaf Pak, Saya Salah Jatuh
  • Inverse [END]
  • SEKAR Dan Mas DJOKO (21+)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines