Dilema Akhwat Kampus

Dilema Akhwat Kampus

  • WpView
    Reads 1,549
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 7, 2026
Salwa adalah prototipe akhwat sempurna: jilbab lebar yang menjuntai, langkah yang terjaga, dan suara yang hanya bergetar untuk urusan dakwah. Namun, sebuah rahasia gelap mulai tumbuh saat ia menyadari bahwa perhatian para ikhwan memberikan kepuasan yang tak bisa ia temukan dalam doa-doanya. Berawal dari sebuah pesan pribadi yang ambigu dan insiden di transportasi umum, Salwa terjebak dalam kehidupan ganda. Ia mulai membagikan sisi dirinya yang paling privat di dunia maya, sambil terus bersembunyi di balik citra akhwat yang terjaga. Saat batasan antara kehormatan dan kehancuran mulai kabur, Salwa harus memilih: kembali ke jalan yang lurus, atau tenggelam lebih dalam ke dalam fantasi yang ia ciptakan sendiri?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Keluarga Calon Istriku
  • Petaka Bidadari Dunia (21+)
  • KESEPIAN BERSAMA BAPAK MERTUA
  • Mama Jatuh Ke Pangkuaan Dukun
  • Wanita Alim Terpaksa Menerima Benih Dukun Tua
  • Mengintai Dosa Tante
  • Istri sempurna dan rahasia nya
  • Para Ibu Ibu Komplek Genit
  • (21+) Petaka Liburan: Istriku Terjebak Menjadi Pasangan Lelaki Lain
  • Desa Tempat Percintaan Nyai Siti

Aku bernama Rizal yang berusia 27 tahun dan akan menikah dengan calon istriku bernama Nisa (25 Tahun), yang akan menceritakan tentang kejadian affair yang terjadi antaran rizal dan juga beberapa wanita dikeluarga nisa sebut saja Rahma : calon ibu mertuaku yang anggun dan cantik berusia 45 tahun Rima kakak pertama nisa yang berusia 30 tahun dan ajeng kakak kedua nisa yang berusia 27 tahun Sinar matahari sore menelusup melalui tirai renda di rumah keluarga Nisa, membiaskan bayang-bayang belang di atas lantai kayu yang mengilap. Aroma kapulaga dan kayu manis masih tertinggal di udara, sisa-sisa teh yang diseduh Rahma sebelumnya. Rizal duduk di sofa empuk ruang tamu, membolak-balik majalah yang sebenarnya tidak ia baca; pikirannya melayang entah ke mana. Tunangannya, Nisa, sedang pergi keluar untuk urusan mendesak, meninggalkannya sendirian bersama keluarga perempuan itu-sebuah situasi yang kian hari kian sarat dengan ketegangan. Rahma, ibu Nisa, melangkah anggun melintasi ruangan. Rok panjangnya yang menjuntai menyapu lantai di setiap langkah. Hari ini ia mengenakan hijab berwarna hijau zamrud tua; kainnya tersampir longgar di bahu, memperlihatkan lekukan tulang selangkanya yang indah. Rizal memperhatikannya dari sudut mata. Jantungnya berpacu saat melihat Rahma membungkuk sedikit untuk merapikan vas di meja kopi-gerakan yang membuat hijabnya tersingkap, cukup untuk memperlihatkan gundukan dadanya di balik blus yang dikenakan. Rizal menelan ludah dengan susah payah, merasakan desakan yang menegang di balik celananya. Ini salah. Benar-benar salah. Namun, pemikiran itu justru membuat api hasratnya kian berkobar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines