The Red Notebook (On Going)

The Red Notebook (On Going)

  • WpView
    MGA BUMASA 91
  • WpVote
    Mga Boto 47
  • WpPart
    Mga Parte 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Thu, Apr 23, 2026
DISCLAIMER❗ - di larang plagiat telling a story : ​"Jangan bawa aku ke sana. Tempat itu... merenggut segalanya." ​Bagi Nazwa Aquilla, rumah sakit bukan tempat untuk sembuh, melainkan labirin putih yang penuh dengan kenangan pahit. Sejak sosok ibunya menghilang dari hidupnya, Nazwa hanya punya Ayah-dan sebuah rahasia yang ia kunci rapat-rapat. ​Beruntung ada Alesha, Zeline, dan Nora. Tiga sahabat yang lebih dari sekadar saudara, yang selalu ada di saat dunia Nazwa terasa runtuh. Namun, seberapa lama mereka bisa menjaga tawa di balik bayang-bayang masa lalu yang mulai mengejar? ​Kenapa Nazwa begitu ketakuta n? Ke mana perginya sang ibu? Dan apa sebenarnya isi dari buku catatan merah itu? ​Temukan jawabannya dalam perjalanan tentang luka, keberanian, dan arti persahabatan sejati. Hope you enjoy Nazwa's journey! Happy Reading💕 start : 22/04/26
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman