RIVAL WITH BENEFIT [BERSAMBUNG]
[Bersambung]
Por dan Teetee tidak pernah akur sejak sekolah.
Mereka bersaing dalam nilai, lomba, organisasi, bahkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.
Bagi Por, Teetee adalah orang yang terlalu percaya diri, terlalu suka mengatur, dan selalu ingin menang.
Bagi Teetee, Por adalah orang keras kepala, gengsi tinggi, dan tidak pernah mau kalah bahkan untuk hal yang tidak penting.
Mereka bukan teman.
Mereka juga bukan musuh.
Mereka hanya dua orang yang entah kenapa selalu berada di garis yang sama, tapi tidak pernah berjalan berdampingan.
Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus dan menjalani hidup masing-masing, Por berpikir akhirnya ia bebas dari Teetee.
Sampai suatu hari, saat hidupnya sedang berantakan dan ia butuh pekerjaan, ia justru harus berdiri di depan sebuah café dan melihat nama yang sangat ia kenal terpampang di sana.
Teetee - Owner.
Dari semua tempat di kota itu, kenapa harus café milik Teetee?
Por ingin pergi, tapi ia butuh pekerjaan.
Teetee ingin menolak, tapi ia tidak pernah bisa benar-benar mengusir Por dari hidupnya.
Jadi Por bekerja di sana.
Awalnya semuanya sama seperti dulu - mereka berdebat, saling menyindir, saling menyebalkan, dan saling berpura-pura tidak peduli.
Tapi lama-lama, Por mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah ia sadari sejak dulu.
Teetee selalu memastikan Por sudah makan.
Teetee selalu menyuruh Por pulang duluan.
Teetee selalu mengantar Por pulang kalau sudah malam.
Teetee selalu datang setiap Por punya masalah, bahkan tanpa diminta.
Mereka bukan teman.
Mereka juga bukan kekasih.
Tapi mereka melakukan hal-hal yang bahkan tidak dilakukan oleh pasangan.
Dan tanpa Por sadari, Teetee perlahan menjadi tempat pulang yang tidak pernah ia rencanakan.
Masalahnya hanya satu.
Por tidak pernah tahu sejak kapan Teetee berhenti menjadi rivalnya,
dan mulai menjadi seseorang yang tidak bisa ia kehilangan.