SEGELAS ES KOPI

SEGELAS ES KOPI

  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 26, 2026
Setiap kisah cinta selalu memiliki akhirnya sendiri: ada yang berakhir bahagia dalam hangatnya pelukan, ada yang berakhir pergi bagaikan angin lalu. Dan kisahku adalah yang kedua. - Mengulas kembali bagaimana rasa ketertarikan terhadap seorang gadis sejak masa putih-biru itu tetap membekas kuat dalam diri Aksara Malam hingga saat ini. Ia seolah terjebak dalam memori tentang Rinai Ayu, seorang siswi pindahan yang dulu mengubah ritme jantungnya hanya dengan sekali tatap, dan sembari meraba kembali luka lama yang tertinggal di pojok perpustakaan. [ FIKSI REMAJA ] © s o u t h d e i n e
All Rights Reserved
#3
solo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WOUNDS OF LOVE (REPUBLISH)
  • Beneath the Parisian Sky [ON GOING]
  • nepenthe
  • Second Hope
  • Searching For Someday
  • Jakarta After Hours
  • Someday
  • Di Barat Laut Bali
  • LARASATI [Book #2]
  • Prestige & Paragon (TERBIT)

Kesakitan ini selalu mengingatkanku akan cintaku yang kamu tepis dengan keacuhanmu. Kamu banyak berubah sejak saat itu. Aku bahkan tidak lagi mengenali laki-laki yang kucintai. Dimanakah dirinya yang dulu? Apakah kini dia telah bermetaforsa menjadi laki-laki angkuh dan dingin? Lantas kemanakah janji suci yang dia ungkapkan dulu? Dimanakah cinta yang dia aggungkan dulu? "Aku menyesal memercayakan segalanya padamu. Kamu ... kamu penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku menyesal pernah mencintaimu ..." Katamu begitu menusukku. Kamu membuatku jatuh dalam asa. Aku tidak dapat lagi bangkit. Semuanya terasa gelap dan mustahil bagiku untuk membuatmu sekedar melihat cintaku yang tulus. Mungkin kamu benar akulah penyesalan terbesar dalam hidupmu. Kamu begitu tampan dan kaya sementara aku tidak ada apa-apanya dibanding wanita yang mengelilingimu. "Maafkan aku yang memaksamu menjadi seperti ini. Seharusnya dulu kita tidak saling mengenal. Kamu benar ... aku akan pergi. Kembalilah ... teman-teman dan kebahagiaan telah menantimu." Air mataku jatuh tapi kamu tidak bereaksi apapun. Mungkin benar ... kamu memang tidak lagi mencintaiku. Tapi bagaimana jika kutemukan cinta itu dalam hatimu yang kian membeku itu? Haruskah kutarik kembali kata ini atau melepaskanmu seperti inginmu dari dulu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines