Kasih Putih

Kasih Putih

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2026
Semua bermula dari satu salam sederhana lalu tumbuh menjadi perasaan yang tak lagi bisa kuanggap biasa. Hidupku berubah dari satu perkenalan sederhana yang ditawarkan oleh seorang teman yang mempertemukanku dengan laki-laki yang bahkan tidak terpikirkan untukku mengenalnya. Dari percakapan singkat, hubungan kami berkembang menjadi kedekatan yang tak terduga. Namun, hubungan itu harus dijalani dalam jarak. Ia bertugas jauh di Papua, sementara aku tetap menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa kebidanan di Mataram. Perbedaan tempat, waktu, dan kesibukan perlahan menghadirkan celah di antara kami. Kami tetap terhubung melalui panggilan malam yang panjang, seolah menutup jarak yang memisahkan. Tapi ketika pagi datang, komunikasi itu menghilang, menyisakan sepi yang sulit dijelaskan. Aku mulai merasa menjadi satu-satunya yang berusaha menjaga hubungan ini tetap hidup. Aku yang lebih sering menghubungi, menunggu, dan berharap. Di sisi lain, Ia menunjukkan cintanya dengan cara berbeda-melalui tanggung jawab, kerja keras, dan usahanya untuk tetap ada, meski tidak selalu dengan kata-kata. Perbedaan cara mencintai inilah yang menjadi ujian terbesar bagi kami. Ketika aku membutuhkan kehadiran kecil di sela hari, ia merasa apa yang telah diberikannya sudah cukup. Di tengah keraguan, overthinking, dan rasa lelah karena terus "mengejar", aku dihadapkan pada satu pertanyaan besar: Apakah cinta harus selalu terasa seimbang untuk bisa bertahan? Perjalanan dua insan dalam hubungan jarak jauh, tentang bagaimana cinta diuji bukan hanya oleh jarak, tetapi juga oleh perbedaan cara memahami dan mengekspresikan perasaan. Sebuah cerita tentang bertahan, mengalah, dan mencari arti diprioritaskan dalam hubungan yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Di antara jarak dan diam, kenapa aku yang selalu lebih dulu?
All Rights Reserved
#427
bimbang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • SECOND TASTE
  • Where They All Look At
  • Hot girl
  • NINGRUM
  • R É G A L I S [REVISI]
  • Kembang Desa
  • The Imperfect Señorita
  • Almost Married (END)
  • Kesayangan Mas Juragan!

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines