Yang Tak Sampai

Yang Tak Sampai

  • WpView
    Reads 60
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 23, 2026
WpInfo
Non-Fiction
Cerita ini merupakan potongan yang selama ini tidak pernah terdengar, sebuah kisah yang sama, namun dilihat dari arah yang berbeda. Jika "Jumpa tuk Lupa" adalah tentang seseorang yang bertahan dalam perasaan yang tidak pernah selesai, maka cerpen ini mencoba menjawab dari sisi yang lain tentang seseorang yang tidak pernah benar-benar memulai. Ditulis dari perspektif Luna, cerita ini mengungkap apa yang tidak pernah terucap, tentang pilihan, tentang kenyamanan yang dibiarkan, dan tentang perasaan yang mungkin tidak cukup besar untuk diperjuangkan, tapi juga tidak sepenuhnya hilang begitu saja. Untuk mendapatkan pengalaman yang utuh, disarankan membaca "Jumpa tuk Lupa" terlebih dahulu, agar setiap momen, setiap diam, dan setiap senyum yang ada di cerita ini terasa lebih dalam. Karena terkadang, satu cerita tidak cukup diceritakan dari satu sudut pandang saja.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"[END]
  • Change The Plot (Niel) ✓
  • BACKSTREET
  • Chana's Transmigrasi
  • Drama di Pintu Kosan
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {S2}
  • REGAN's Crazy Wife (END)
  • Mission

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines