Dulu, Zirga adalah anak yang segalanya tersedia. Sebagai anak kedua dari keluarga yang berada, tak pernah ia tahu arti kata "tidak". Mainan terbaru, pakaian mahal, liburan ke luar kota semua ia dapatkan tanpa perlu merengek terlalu keras. Ia tumbuh dalam pelukan kemewahan yang hangat, dikelilingi tawa kedua orang tua yang masih utuh.
Namun waktu tak pernah berjanji untuk setia.
Perlahan, kehangatan itu mulai retak. Ayahnya, yang dulu pulang membawa senyum dan oleh-oleh, kini pulang membawa bau parfum yang asing. Ibunya berubah menjadi gunung berapi yang siap meletus kapan saja emosi, cemburu, amarah yang tak jelas ujungnya. Rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi medan perang. Setiap malam adalah pertempuran bising yang tak pernah dimenangkan siapa pun.
Zirga hanya bisa menutup telinga dengan bantal, berdoa pada Tuhan yang tak pernah menjawab.
Dan di saat rumahnya sedang hancur, dunia luar justru memukulnya lebih keras. SMP adalah neraka yang tak pernah ia minta. Bukan karena pelajarannya yang sulit, tapi karena manusia-manusia kecil yang kejam. Ejekan, dorongan di lorong sepi, sindiran yang dilempar seperti batu semua berawal dari "eh ada anak dari tukang selingkuh ni" Padahal Zirga tak pernah merasa ada buat salah sama mereka.
Tapi mereka tak butuh alasan. Mereka butuh korban.
Perlahan, Zirga mati rasa. Bukan karena ia tak bisa merasakan, tapi karena terlalu banyak luka yang harus ia simpan sendirian. Ia berhenti bercerita. Berhenti meminta tolong. Berhenti percaya bahwa ada yang peduli.
"Zirga tumbuh menjadi anak yang tak bisa didekati. Orang-orang bilang ia mamusia dingin, kejam, dan tak bisa disentuh. Tapi tak ada yang tahu bahwa di balik semua itu, ia hanya sedang belajar bagaimana cara bertahan hidup tanpa harus hancur lagi.
Yg minat baca, kalau gak ya udah sihhh 😉.
All Rights Reserved