Forced to Marry My Enemy

Forced to Marry My Enemy

  • WpView
    Reads 15,104
  • WpVote
    Votes 1,873
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 11, 2026
Menceritakan tentang gadis kutu buku yang cantik di nikah kan paksa dengan musuh nya demi membayar hutang ayah nya. Gadis kutu buku itu bernama Catherina Amara dan musuh nya bernama Abigail Eleanor.Kedua nya sama-sama memiliki paras yang cantik tetapi kasta mereka berbeda. Catherina hidup di keluarga sederhana sedangkan Abigail hidup di keluarga kaya raya.Awal mereka bermusuhan di karena kan Catherina difitnah oleh seseorang telah mencuri barang berharga milik Abigail. Apakah setelah mereka di nikah kan akan tetap saling membenci atau menjadi cinta? Untuk tau kelanjutannya silah kan baca. fxg dom : Aralie sub : Erine Jangan salpak!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines