Harga Sebuah Impian

Harga Sebuah Impian

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 23, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Mereka bilang mimpi itu gratis. Siapa pun boleh bermimpi setinggi langit, menggantungkan harapan pada masa depan, dan percaya bahwa kerja keras akan membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik. Sejak kecil, aku juga mempercayai kalimat itu. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa selama aku rajin belajar, selama aku tidak menyerah, suatu hari aku akan berhasil. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa mengubah hidup keluargaku. Aku ingin melihat ibu berhenti menghitung uang receh setiap malam hanya untuk memastikan kami masih bisa makan esok hari. Aku ingin ayah pulang tanpa wajah lelah karena seharian bekerja keras untuk penghasilan yang tak pernah cukup. Aku ingin sekolah tanpa harus memikirkan biaya yang selalu menjadi beban. Aku punya mimpi besar. Terlalu besar, mungkin. Aku ingin kuliah di universitas terbaik. Aku ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana juga bisa berdiri sejajar dengan mereka yang lahir dengan segala kemudahan. Aku belajar hingga larut malam, menahan kantuk, mengorbankan waktu bermain, dan memaksa diriku percaya bahwa semua perjuangan ini akan terbayar. Sampai akhirnya aku sadar...
All Rights Reserved
#856
universitas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines