Kim Taehyung tidak pernah menyentuh sesuatu yang tidak ingin dia miliki selamanya.
Pemilik Elysian Gallery di Hannam-dong itu hidup dengan satu prinsip: segala sesuatu memiliki tempat, dan segala sesuatu harus berada di tempatnya. Koleksinya sempurna. Galerinya sempurna. Hidupnya sempurna dan terkendali, sampai seorang magang kurator berusia dua puluh dua tahun yang ceroboh dan terlalu jujur masuk ke dalam dunianya dan menghancurkan satu set porselen Dinasti Goryeo senilai miliaran won dalam hitungan detik.
Jeon Jungkook mengira hidupnya sudah tamat.
Yang datang bukan tagihan. Yang datang adalah sebuah kontrak, dua lembar kertas tipis dengan kata-kata yang disusun dengan sangat hati-hati, dan satu kalimat dari Taehyung yang nadanya lebih mirip pernyataan fakta daripada tawaran: "Kamu bekerja untukku setiap akhir pekan. Hutangmu lunas kalau aku bilang lunas."
Jungkook menandatanganinya. Karena tidak ada pilihan lain.
Atau begitulah yang dia ceritakan pada dirinya sendiri.
Di balik pintu rumah Taehyung yang tidak pernah dibuka untuk siapa pun, ada aturan-aturan yang tidak tertulis dalam kontrak mana pun. Cara duduk. Cara bicara. Cara menunggu. Dan Jungkook, yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk menolak diatur, menemukan sesuatu yang tidak pernah dia antisipasi: kenyamanan. Bukan kenyamanan yang pasif, tapi jenis kenyamanan yang terasa seperti akhirnya bisa bernapas penuh setelah bertahun-tahun tidak sadar bahwa selama ini dia menahan napas.
Masalahnya, Taehyung juga menemukan sesuatu yang tidak dia antisipasi.
All Rights Reserved