RAVEN
  • WpView
    Reads 228
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 7, 2026
Story [1] On going [update setiap hari selasa, jum'at, dan minggu] Di SMA Trisakti, Lea hanyalah siswi pindahan. Anggun, tenang, dan tampak rapuh seperti kaca. Ia membaur dengan sempurna, menata senyum yang tepat dan mengucapkan kata yang sesuai. Namun, ada jeda yang terlalu panjang sebelum ia menjawab pertanyaan sederhana. Ada tatapan yang terlalu jeli untuk seorang siswi baru. Di balik sikap femininnya, tersimpan lapisan-lapisan sunyi yang tidak ia bagikan pada siapa pun. Hari pertamanya seharusnya dilalui tanpa gema. Tapi sebuah insiden dengan Edgar, pemimpin RAVEN, mengubah segalanya. Kini ia berada di titik temu antara tenang dan badai. Prolog usai. Di Trisakti, setiap orang menyimpan rahasia. Pertanyaannya, rahasia siapa yang akan pecah lebih dulu - miliknya, atau milik mereka?
All Rights Reserved
#675
teenfiction
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines