GANG BUTENG (CORTIS)

GANG BUTENG (CORTIS)

  • WpView
    Reads 173
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 27, 2026
Di sudut sebuah kota pelajar yang tak pernah tidur, berdiri sebuah rumah kosan berwarna biru tua yang dikenal dengan sebutan Gang Buteng. Rumah itu bukan sekadar bangunan bata dan kayu; bagi lima pemuda di dalamnya, tempat itu adalah kawah candradimuka yang menguji kemandirian, persahabatan, dan mengukir kisah masa muda mereka. Tahun ini, Gang Buteng kedatangan tiga anggota baru yang masih membawa kepolosan dari kampung halaman masing-masing. Tahun-tahun berlalu diiringi suara hujan yang menghantam atap seng, tawa yang pecah saat bermain kartu UNO di ruang tengah, hingga tangis tertahan saat salah satu dari mereka mendapat kabar duka dari kampung. Kost sederhana di Gang Buteng itu menjadi saksi bisu. Dindingnya yang retak menyerap keluh kesah mereka tentang dosen yang killer, tugas yang menumpuk, hingga patah hati pertama. Mereka belajar bahwa menjadi laki-laki sejati bukan sekadar mengandalkan wajah tampan, melainkan seberapa kuat punggung mereka memikul tanggung jawab, dan seberapa besar hati mereka untuk saling merangkul saat salah satu dari mereka terjatuh.
All Rights Reserved
#328
keonho
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cupiditas Vitae [END]
  • Rewriting The Villain
  • The Unseen Little Guest [TingMeen]
  • Possessive Male Lead
  • Love me or die
  • TOXIC BOYFRIEND
  • Second Life : Bring Me Back To You
  • Reflected Fate: The Duchess Who Should Have Died [HOONSEUNG]
  • CONTROLLED CHAOS
  • I'm Not Just a Figuran

Rio hanya ingin hidup tanpa memperdulikan penolakan yang selalu mengikuti langkahnya. Hidup dioper dan dieksploitasi adalah bagian hidupnya. Harusnya ia sudah mati. Entah akhirnya akan tenang atau malah terjebak di dimensi yang lebih mengerikan daripada hidupnya sekarang. Tapi dia kembali membuka mata. Di dua bulan sebelum kematian datang menjemputnya. Waktu terlalu singkat. Rio memutuskan dengan cepat. Dia masih punya kesempatan untuk lari dan hidup, kan? Sebuah skenario yang janggal untuk sebuah ketidaksengajaan membuatnya bertemu dengan sahabat ayahnya, yang memberikan secercah harapan akan tempat berteduh yang aman. Rio tidak pernah punya harapan yang rakus. Ia hanya ingin bertahan hidup. Benar-benar tidak tahu bahwa kenyamanan juga memaksanya untuk terluka dan berlapang dada.

More details
WpActionLinkContent Guidelines