Min Yoongi. Dokter spesialis bedah jantung dan pembuluh darah yang dijuluki "Tangan Dewa". Cerdas, terampil, tapi sedingin logam pisau bedah. Baginya, dunia kedokteran cuma soal logika, ketepatan, dan prosedur. Perasaan? Hanya menghambat pekerjaan. Sejak kehilangan seseorang yang paling berharga di meja operasi bertahun lalu, dia memutuskan untuk berhenti "merasakan" apa pun-termasuk terhadap pasiennya.
Park Naya. Dokter residen yang baru lulus dengan nilai terbaik. Hangat, penuh empati, dan percaya bahwa menyentuh hati pasien sama pentingnya dengan menyembuhkan tubuh mereka. Baginya, pasien bukan sekadar nama di kertas atau kasus yang harus diselesaikan. Mereka adalah manusia yang butuh perhatian dan kehangatan.
Ditempatkan sebagai bawahan Yoongi, Naya langsung mendapat perlakuan dingin dan sering dikritik habis-habisan.
"Kamu terlalu emosional. Perasaan tidak akan menyelamatkan nyawa siapa pun." - kata Yoongi.
"Kalau cuma mengandalkan prosedur, kita sama saja dengan mesin. Pasien butuh lebih dari itu!" - balas Naya.
Mereka tidak cocok. Sama sekali. Sampai satu kasus besar masuk ke meja mereka-sebuah kasus yang membuka kembali luka terpendam Yoongi, mengingatkannya pada kesalahan terbesar dalam hidupnya, dan perlahan mengubah pandangan mereka satu sama lain.
Saat operasi terbesar yang mempertaruhkan segalanya tiba, Yoongi akhirnya sadar... bahwa satu hal yang paling membuatnya takut bukan lagi gagal menyelamatkan pasien, tapi gagal menyelamatkan dia.
💔 "Detak jantung yang sempat berhenti berdenyut, akhirnya menemukan iramanya kembali-karena kamu."
All Rights Reserved