Nara
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 25, 2026
--- Pendahuluan Ada orang-orang yang hidupnya terlihat ringan. Mereka tertawa paling keras. Bercanda paling santai. Dan selalu punya cara untuk membuat suasana jadi lebih hangat. Kalau dilihat sekilas, hidup mereka baik-baik saja. --- Padahal... tidak selalu begitu. --- Karena tidak semua yang terlihat bahagia, benar-benar tidak punya beban. Dan tidak semua yang terlihat kuat, benar-benar tidak pernah takut. Ada hal-hal yang sengaja disembunyikan. Ada perasaan yang sengaja tidak diakui. Ada keputusan yang terlihat sederhana... tapi sebenarnya lahir dari banyak pertimbangan yang tidak pernah diceritakan ke siapa pun. --- Cerita ini bukan tentang cinta yang besar dan penuh drama. Bukan juga tentang dua orang yang langsung tahu arah mereka sejak awal. --- Ini tentang hal-hal kecil. Tentang perhatian yang datang tanpa diminta. Tentang rasa yang tumbuh pelan-pelan, tanpa disadari. Dan tentang seseorang yang memilih mundur... bukan karena tidak sayang, tapi karena merasa tidak cukup. --- Mungkin kamu pernah ada di posisi itu. Atau... kamu pernah bertemu seseorang seperti itu. --- Seseorang yang terlihat baik-baik saja di siang hari, tapi diam-diam... masih memikirkan satu nama yang sama setiap malam. --- Dan dari situlah semuanya dimulai.
All Rights Reserved
#911
nara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Imperfect Se�ñorita
  • Double AL (COMPLETE)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • NINGRUM
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • R É G A L I S
  • PENGGANTI

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines